Memahami
Anak Cerdas/Berbakat Istimewa (CI+BI)
Oleh: Amril Muhammad, SE., M.Pd.
Sekjend. Asosiasi CI+BI Nasional
Sekretaris Dewan Pembina Cugenang Gifted School
Dosen Jurusan Manajemen Pendidikan FIP UNJ
PENDAHULUAN
Undang-undang
no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4 menyatakan
bahwa “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus”. Perlunya perhatian khusus kepada anak CI+BI
merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara
utuh dan optimal.
Pengembangan
potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah. Tanpa layanan
pembinaan yang sistematis terhadap siswa yang berpotensi cerdas istimewa, bangsa
Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia terbaik.
Strategi
pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan perlakuan
standar/rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan
antar siswa dalam kecakapan, minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini,
keunggulan akan muncul secara acak dan sangat tergantung kepada motivasi
belajar siswa serta lingkungan belajar dan mengajarnya. Oleh karena itu perlu
dikembangkan keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar potensi yang dimiliki
menjadi prestasi yang unggul.
Perhatian
khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi
semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Melalui penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI,
diharapkan potensi-potensi yang selama ini belum berkembang secara optimal,
akan tumbuh dan mampu menunjukkan kinerja terbaik.
Diperkirakan
terdapat sekitar 2,2% anak usia sekolah memiliki kualifikasi CI+BI. Menurut
data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya terdapat
sekitar 1.059.796 anak CI+BI di Indonesia. Berdasarkan data Asossiasi CI+BI
tahun 2008/9, Jumlah siswa CI+BI yang sudah terlayani di sekolah akselerasi
masih sangat kecil, yaitu 9551 orang yang berarti baru 0,9% siswa CI+BI yang
terlayani. Ditinjau dari segi kelembagaan, dari 260.471 sekolah, baru 311
sekolah yang memiliki program layanan bagi anak CI+BI. Itupun baru terbatas
program yang berbentuk akselerasi. Sedangkan di madrasah, dari 42.756 madrasah,
baru ada 7 madrasah yang menyelenggarakan program aksel. Ini berarti masih
sangat rendah sekali jumlah sekolah/madrasah yang memberikan layanan pendidikan
kepada siswa CI+BI, serta keterbatasan dari ragam pelayanan.
KARAKTERISTIK
ANAK CI+BI
Anak-anak gifted bukanlah
anak dengan populasi seragam, ia mempunyai banyak variasi, baik variasi pola
tumbuh kembangnya, variasi personalitasnya, maupun variasi keberbakatannya.
Semakin tinggi perkembangan inteligensianya, maka akan terjadi deskrepansi
(perbedaan) di berbagai domain perkembangan. Deskrepansi ini bukan saja akan
menyangkut perkembangan dalam individu, tetapi juga akan menyangkut
perkembangan antar individu. Kondisi inilah yang sering membawa berbagai
kesulitan pada anak-anak gifted dan sering salah
terinterpretasi (Silverman, 2004).
Sebagian
besar anak gifted akan mengalami perkembangan motorik kasar
yang melebihi kapasitas normal, namun mengalami ketertinggalan perkembangan
motorik halus. Saat ia masuk ke sekolah dasar, umumnya ia mengalami kesulitan
menulis dengan baik. Banyak dari anak-anak ini diberi hukuman menulis
berlembar-lembar yang justru tidak menyelesaikan masalahnya bahkan akan
memperberat masalah yang dideritanya9. Anak-anakgifted adalah
anak-anak yang sangat perfeksionis, sehingga perkembangan kognitif
yang luar biasa tidak bisa ia salurkan melalui bentuk tulisan. Hal ini selain
dapat menyebabkan kefrustrasian dan juga dapat menyebabkan kemerosotan rasa
percaya diri, konsep diri yang kurang sehat serta anjlognya motivasi untuk
berprestasi.
Deskrepansi
antara perkembangan kognitif dan ketertinggalan motorik halus, ditambah
karakteristik perfeksionisnya bisa menimbulkan masalah yang cukup serius
baginya, terutama kefrustrasian dan munculnya konsep diri negatip, ia merasa
sebagai anak yang bodoh tidak bisa menulis. Namun seringkali pendeteksian tidak
diarahkan pada apa akar permasalahan yang sebenarnya, dan penanggulangan hanya
ditujukan pada masalah perilakunya yang dianggap sebagai perilaku membangkang
Anak
cerdas (brigth/higt achiever) berbeda dengan dengan anak CI+BI (gifted)
dan anak-anak cerdas tidak bisa dimaksukkan ke dalam kelompokgifted karena
mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Sekalipun mereka juga memiliki
tingkat intelegensi yang tinggi, namun kemampuan mereka dalam analisis,
abstraksi dan kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI+BI. Berbagai
perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
|
CERDAS
(Bright/High Achiever)
|
CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA
(Gifted – Talented)
|
|
|
Menjawab pertanyaan dengan benar
Berminat dengan sesuatu
Menunjukkan perhatian
Punya gagasan yang bagus, populer
Bekerja keras untuk sukses ujian
Menjawab soal sesuai dengan yang ditanyakan
Di puncak daftar siswa berprestasi
Suka linearitas
Pemerhati yang baik
Mendengarkan penuh dengan minar
6-8 kali pengulangan untuk menguasai materi
Memahami gagasan orang lain dengan baik
Senang berteman dengan teman sebaya
Menarik kesimpulan
Menyelesaikan tugas yang diberikan
Pintar menyalin, meniru
Suka sekolah
|
|
(Sumber: CGIS-Net
Assessment systems, 2008)
IDENTIFIKASI
ANAK CI+BI
Dalam
mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa menggunakan pendekatan
multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan
sekedar intelligensi). Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang
memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke
atas dengan pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat tes yang lain =
rerata skor IQ ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi
(ditetapkan skor CQ dalam nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di
atas rerata) dan pengikatan diri (Task commitment) terhadap tugas baik
(ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku baik, atau plus satu
standar deviasi di atas rerata). Tiga komponen ini dikenal sebagai
Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1978, 2005) yang banyak digunakan dalam
menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang
mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (Gifted
and Talented children).
Model
lain adalah The Triadich dari Renzulli-Mönks yang merupakan pengembangan dari
Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mönks ini
disebut sebagai model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan
dari Renzulli. Dalam model multifaktornya Mönks mengatakan bahwa potensi
kecerdasan istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu
tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari
sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana si anak tinggal (Mönks dan Ypenburg,
1995).
Dengan
model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan
dari peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala
berkecerdasan istimewa (giftedness), toleran terhadap berbagai
karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan
tumbuh kembangnya yang menjadi penyulit baginya, serta dalam mengupayakan
layanan pendidikannya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan
pihak orang tua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan
simultan dengan layanan pendidikan terhadap anak di sekolah.
Model
Triadich Renzulli-Mönks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan
untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik
dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi
adanya kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak
berkecerdasan istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak
yang mempunyai ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh
kembang, ciri-ciri personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih
dapat terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan
dari sekolah, keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang
istimewa sesuai potensinya.
Model
pendekatan multifaktor lebih fleksibel dalam melakukan deteksi dan diagnosis
anak cerdas istimewa, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan kondisi tumbuh
kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan penting, berkesulitan dan
bergangguan belajar (learning difficulties dan learning disabilities),
serta yang mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan
perilaku yang patologis). Fleksibilitas dalam melakukan deteksi yang dimaksud
adalah dimungkinkannya penggunaan daftar dan alat-alat ukur asesmen yang lebih
beragam (Mönks dan Pflüger, 2005).
Heller
(2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan
pengembangan dari Triadic Interdependence model Mönks
serta Multiple Intelligences dari Howard Gardner.
Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat
dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain: (1) faktor
talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2) faktor
kinerja (performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor
lingkungan; Dua faktor terakhir menjadi perantara untuk terjadinya transisi
dari talenta menjadi kinerja. Secara grafis, model tersebut dapat dilihat
pada gambar di halaman berikut.
Faktor
bakat (talent) sebagai potensi yang ada dalam individu dapat meramalkan
aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat
ini mencakup tujuh area yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: kemampuan
intelektual, kemampuan kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis,
kemampuan artistik, musikalitas, dan keterampilan psikomotor. Sementara itu
Faktor kinerja (performance) meliputi delapan area kinerja, yaitu:
matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni (musik, lukis),
bahasa, olah raga, serta relasi sosial.
Bakat (talent)
dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi
stres, motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja,
harapan-harapan akan pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan,
dan kehausan akan pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang
mencakup: iklim keluarga, jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat
pendidikan orang tua, stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada
di rumah, lingkungan belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan
peristiwa-peristiwa kritis.
Di
dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat
mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat
yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana orangtua atau guru
memperlakukannya. Di dalam proses terwujudnya kinerja, bakat juga
dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat
yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana anak tersebut menjadi semakin
ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan berpengaruh terhadap sikap
orangtua atau guru terhadap anak sehingga berpengaruh terhadap cara
memperlakukan si anak.
Proses Identifikasi
merupakan salah satu tahap awal yang merupakan kunci utama yang penting dalam
keberhasilan suatu program layanan pendidikan khusus bagi siswa CI+BI. Dalam
proses rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan pendidikan yang
diberikan bagi peserta didik cerdas istimewa ada beberapa prinsip identifikasi
yang perlu diperhatikan adalah (Klein, 2006; Porter, 2005) yaitu: Cerdas
Istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga identifikasi hendaknya
dilakukan secara multidimensional dengan:
1.
Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari
kemampuan yang dimiliki oleh siswa cerdas istimewa pada usia yang berbeda.
2.
Mengukur bakat-bakat khusus yang dimiliki untuk dijadikan acuan
penyusunan program belajar bagi siswa cerdas istimewa.
3.
Tidak hanya memperhatikan hal-ahl yang sudah teraktualisasi,
namun juga mengidentifikasi potensi.
4.
Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek kognitif, namun
juga motivasi, minat, perkembangan sosial emosional serta aspek non kognitif
lainnya.
PERMASALAHAN
ANAK CI+BI
Gejala-gejala
lompatan perkembangan anak CI+BI merupakan faktor kuat yang memberi
dampak psikologis dalam perilakunya, baik positif maupun negatif. Dengan
memahami karakteristik anak, orang tua, guru, masyarakat dapat mengantisipasi
hal-hal di luar dugaan (misalnya marah, agresif) dan bisa menduga penyebabnya.
Perilaku negatif tersebut, mungkin menjadi sumber masalah emosional anak CI+BI.
Gambaran perilaku negatif dan positif anak CI+BI, dapat dilihat pada tabel
berikut:
|
Karakteristik
|
Perilaku Positif
|
Perilaku negatif
|
|
Sangat
waspada
|
Cepat
mengetahui ada masalah
|
Senang
mengoreksi orang dewasa
|
|
Selera
humor tinggi
|
Mampu
menertawakan diri sendiri
|
Membuat
lelucon dengan mengorbankan orang lain
|
|
Mampu
memahami keterkaitan satu dengan yang lain
|
Mampu
memecahkan masalah sosial sendirian
|
Ikut
campur urusan orang lain
|
|
Dorongan
berprestasi yang kuat
|
Mengerjakan
tugas sekolah dengan baik
|
Arogan,
egois, tidak sabaran dengan kelambanan orang lain
|
|
Kemampuan
verbal yang tinggi
|
Diplomasi
persuasif dengan tata bahasa yang tepat
|
Memanipulasi
orang lain
|
|
Individualistik,
menantang stabilitas
|
Percaya
diri tinggi
|
Hanya
sedikit punya teman dekat, kuat dengan keyakinan diri sendiri
|
|
Motivasi
diri yang kuat, merasa tidak perlu bantuan orang lain
|
Hanya
perlu sedikit arahan dan bantuan orang lain
|
Agresif
berlebihan, menantang otoritas
|
|
Kemampuan
membaca sangat tinggi
|
Mengingat
dan menguasai materi belajar dengan mudah
|
Gampang
bosan, tidak suka hafalan
|
|
Sangat
senang membaca
|
Membaca
berbagai jenis buku, memonopoli perpustakaan
|
Mengabaikan
orang lain
|
|
Kaya
perbendaharaan kata
|
Mengkomunikasikan
gagasan dengan lancar
|
Suka
pamer pengetahuan
|
|
Simpanan
informasi yang sangat banyak
|
Cepat
dalam menjawab pertanyaan
|
Memonopoli
diskusi
|
|
Rentang
perhatian yang panjang
|
Mengerjakan
tugas sampai selesai
|
Tidak
suka kerja terbatas waktu, mengatur sendiri waktu penyelesaian
|
|
Minat
beragam, rasa penasaran yang tinggi
|
Banyak
bertanya, senang dengan gagasan baru
|
Kurang
dapat membuat pembicaraan yang lintas disiplin
|
|
Belajar/bekerja
sendiri
|
Menciptakan
gaya sendiri dengan melakukan sesuatu
|
Menolak
bekerjasama dengan orang lain yang dianggap tidak sejalan
|
Kepustakaan
Gary A. Davis, Sylvia B. Rimm Education
of the Gifted and Talented, New York: Allyn & Bacon, 1998
Don Ambrose,Tracy Cross Morality, Ethics, and Gifted Minds, Springer, 2009
Berbagai sumber-sumber lain
Don Ambrose,Tracy Cross Morality, Ethics, and Gifted Minds, Springer, 2009
Berbagai sumber-sumber lain

No comments:
Post a Comment